Saat langit keadilan runtuh
Kantin FE Baru, tempat di mana calon ekonom membicarakan masa depan...
Saat Langit Keadilan Runtuh
Saat langit keadilan runtuh
Education Trap
Duh, belum kenyang nih dengan Yamin Polos. Saatnya buat ronde dua dengan makan Spaghetti Bolognaisse. Pesen satu ahh! Dan Es teh manis biar ndak haus. Sambil nunggu pesanan, mari kita berdiskusi. Topik kali ini adalah kemiskinan dan pendidikan.
One Day Nationalism
Lama tak berjumpa. Gw mau memesan Yamin Polos (menu favorit klo lagi bokek. heheh). Baiklah, kali ini sekali-sekali gw mau posting dalam bahasa inggris. Yah, itung2 latihan english gitu lahh. Okay, let's get it on!
Back in
That day was the day where Batik was inaugurated as
It has been years since the first conflict with
Nationalism by Wearing Batik in One Day
Several weeks before the D-Day of the inauguration, people started to spread the request of using Batik for the ceremonial day. We can see the request to wear Batik from Facebook, Twitter, Mailing List, Text Message or any other possible media. Even in my campus at
One of the issues that has been surfaced to entice people to wear Batik for that day is the issues of nationalism. People started to spread the issue that to show our nationalism towards our country, we must wear Batik to celebrate the ceremonial day.
It was a good and positive idea, but there is one worrying problem arisen at the same time. People started to think that someone who did not wear Batik on that day as someone who are non-chalant for Indonesian culture, that they are considered as not celebrating the event. Those who did not wear Batik that day are considered as not having the sense of nationalism.
Does nationalism really that simple?
Nationalism cannot be judged by that very small matters. Does the people who wear Batik for that day can be acknowledged as the people who have a good sense of nationalism?
Obviously, they cannot.
There are a lot of ways to show our nationalism and wearing Batik for one day is just a small portion from a greater one. Those who did not wear Batik for that day must not be judged one-sidedly like that. They might have their own way to show their love for the country. They might have a greater nationalism than those who wore Batik that day. Moreover, those who only wear Batik for the sake of that ceremonial and forget about it later are the people who lack of nationalism. Because, their nationalism is limited as just a ceremony.
Nationalism is not merely wearing Batik for just one day.
Before The Conflict with
This Batik issue has only been an intriguing issue in
This nationalism issue has only arisen right after the conflict where Batik was one-sidedly announced by
Maybe, it was not purely
And, now we one-sidedly judge people who did not wear Batik as lack of nationalism. We value other people without valuing our past fault that this pride of
Showing Our Nationalism
The past is the past. Our non-chalant attitude almost give
People in
We have to start to accept it as our daily outfit. But, it is not that easy since Batik has been considered as an old-fashioned outfit which only appropriate for wedding attire.
There is one possible answer for this problem: creative industry. Creative Industry. By promoting creative industry, it is possible to produce Batik outfits that are appropriate for casual attire and formal attire. If the people cannot adapt easily, then it is the product that needs to adapt with the people.
The present creative industry has started to produce Batik which can be used for every event. Now is our turn to use the product of creative industry, especially Batik, as our form of appreciation to Indonesian culture. Once we get used to it, Batik will become our daily outfit, and therefore, Batik as our traditional culture can be cherished.
That’s how we show our nationalism.
Krisis Finansial AS dan Intervensi Pemerintah
Wahh, lama sekali tak berkunjung untuk menikmati sebuah burger di sini. maklum, akhir2 ini puasa jadi jarang berkunjung. Siang puasa, malem teraweh. Hehehe... Anyway, gw mo Mashed Potatoes ditambah dengan Spaghetti Bolognaise hari ini. Uda lama gak makan beginian.
Hari ini, dibandingkan memaparkan keseluruhan pemikiran di kepala gw di dalam blog ini, gw hanya ingin memberikan sebuah kasus untuk kita diskusikan. Gw harap, teman2 yang membacanya memberikan tanggapan dan komentar atas apa yang akan gw katakan. Make it a discussion, guyz.
Pastinya semua sudah mendengar mengenai Krisis Finansial di AS yang sedang hangat2nya di berita karena Sub-prime Mortgage kemudian disusul dengan ambruknya Lehman Brothers Financial Co. yang mengakibatkan rontoknya bursa Wall Street. Kebankrutan yang dialami oleh Lehman Brothers menyebabkan guncangan yang sangat besar di sektor finansial dunia. Risiko sistemik yang disebabkan oleh shock tersebut merambah hingga ke negara2 maju seperti Jepang dan Inggris, serta Uni Eropa. Obligasi yang dimiliki oleh Lehman Brothers mencakup banyak negara di dunia sehingga kebankrutannya menyebabkan ancaman risiko krisis likuiditas di negara2 terseut, termasuk Indonesia. Jelas sekali bahwa Bank nomor 4 di AS ini memegang kunci sistemik sektor finansial dunia.
Apakah hal menarik yang dapat kita diskusikan di sini?
Melihat betapa besarnya risiko yang dipegang oleh Lehman Brothers, mengapa pemerintah AS tidak melakukan intervensi terhadap Lehman Brothers untuk menyelamatkannya dari kebankrutan yang bersifat sistemik? Hal ini diputuskan oleh pemerintah AS pada tanggal 14 September 2008 yang menyebabkan Lehman Brothers menyatakan kebankrutannya pada tanggal 15 September 2008. Sementara itu, pemerintah lebih mementingkan untuk menyelamatkan AIG yang terancam ambruk akibat bankrutnya Lehman Brothers. Mengapa?
Kedua hal tersebut sangat menarik untuk dibahas. Nah, gw menantikan jawaban dari kalian semua.
While waiting, I'll enjoy my burger!
Wirapati
Image Bandara Kita

Changi International Airport
Singapore

Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Indonesia
Coba kita perhatikan kedua...
Tampak sebuah wibawa yang berbeda antara bandara Indonesia dan Singapur. Jelas bandaa Singapur secara bentuk dan fasilitasnya lebih mencerminkan bandara internasional yang berwibawa dibandingkan Indonesia. Oke, mungkin karena Singapur lebih tajir dari kita. But, that's not the only problem we had here.
Sebelum itu, gw mau pesen Tuna Croissant Sandwich dan Thai Tea. Uda lama gak menikmati keduanya. Let's start!
Apakah makna dari bandara internasional bagi sebuah negara? Apakah hanya sebuah tempat pesawat terbang yang mendarat dan kemudian terbang lagi? Atau hanya tempat parkir pesawat yang sedang menunggu jadwal flight? Atau mungkin tempat orang berlalu-lalng dai satu empat ke tempat lain dalam waktu sekejap saja?
Lebih dari itu! Makna dari sebuah bandara internasional lebih dari sekedar empat transit, tempat parkir pesawat dan halte untuk berpergian internasional. Bandara internasional adalah sebuah gerbang, gerbang pertama dari sebuah negara saat ada pengunjung dari luar negeri tiba ke sebuah negara. Oleh karena itulah, bandara internasional adalah sebuah image pertama dari sebuah negara, simbol kewibawaan lapis pertama.
Indonesia memiliki bandara internasional dengan fasilitas yang jelas kalah dengan Singapur. Karena memang kita negara berkembang dan Singapur negara maju. Tapi, apakah fasilitas cukup dalam memberikan image dan wibawa bagi sebuah bandara. Tidak! Bagaimana bandara tersebut diatur dan tertib adalah image yang lebih penting lagi.
Kita sering melihat di Soekarno-Hatta (SH) mengenai betapa tidak teraturnya bandara internasional itu. Banyak pedagang kaki lima. Banyak orang yang duduk sembarangan di bandara. Banyak orang yang merokok bahkan di tempat dilarang merokok. Banyak calo. Kotoran dan sampah banyak terlihat di bagian luar SH. Dan terlebih buruknya lagi, hal2 tersebut di atas juga dilakukan oleh pegawai SH.
Gw uda pernah ke Changi dan melihat bagaimana berwibawanya bandara ini. Bukan hanya karena fasilitasnya. Tapi betapa rapi dan tertibnya bandara ini. Semua orang berjalan dengan tertib. Tidak ada yang merokok kecuali di Smoking Room. Tidak ada yang ngedeprok di sembarang tempat. Tidak ada kaki lima. Bus penjemput pun parkir dengan teratur. Everything is under control!
Kita bisa bandingkan bagaimana image awal dari sebuah negara saat kita tiba di bandaranya. Bandara Changi memberikan image sebuah negara yang tertib dengan peraturan yang dipatuhi oleh penduduknya. Sementara, SH menunjukkan betapa negara kita tidak tertib dan penduduknya sering tidak menaati peraturan bahkan pembuat peraturan itu sekalipun.
Bagaimana Indonesia mau memiliki wibawa yang cukup di mata warga negara asing yang datang ke Indonesia jika gerbang utamanya saja sudah mengesankan tidak baik. Kita berangan2 memajukan turisme dan pariwisata internasional, tapi tidak membenahi bandara kita ini. Bahkan, delegasi kenegaraan asing pun bisa malas melihat bandara kita ini.
Gw rasa, dalam hubungan internasional, Indonesia harus memulai dengan membenahi bandaranya terlebih dahulu. Dengan demikian, kita bisa memberikan First Impression yang baik.
Enjoy Your Burger!
Wirapati
Economic Costs and Benefits of Cigarettes
Hoahm.. Ngantuk dan lelah sehabis beraktivitas. Secangkir coklat panas akan merelaksasi tubuh kita dalam kondisi seperti ini. Mas, pesen Hazelnut Hot Chocolate yang Grande. (Lho, koq nyangsang ke Starbucks?)
Kisah mengenai rokok ini pastinya lagi HOT! HOT!nya di dalam media massa. Terutama mengenai MUI yang menyatakan rokok sebagai haram. Banyak kontroversi di mana2 mengenai hal ini. Bahkan di TVOne terjadi perdebatan yang super panas mengenai hal ini, apakah rokok haram atau tidak?
Actually, gw tidak mau membahas hal yang ada di atas. Sebagai calon ekonom, gw ingin memandang rokok sebagai Economic Goods dan di sini gw ingin berdiskusi mengenai Costs and Benefits dari rokok ini terhadap perekonomian mikro dan makro. Dalam diskusi ini, gw ingin mengesampingkan semua costs dan benefits dari rokok ini diluar economic costs dan benefits. Jadi, kita kesampingkan efek kesehatan di sini jika tidak diaplikasikan secara ekonomi.
Benefits
Pertama-tama kita lyat benefitnya. Rokok jelas memberikan pendapatan bagi negara. Pada dasarnya, rokok merupaka komoditas objek pajak yang sangat ditinggi nilai pajaknya. Konsumsi rokok akan menambah Government Revenues yang kemudian dapat digunakan untuk pembangunan dan lain sebagainya. Degan kata lain, rokok adalah sumber penghasilan negara yang sangat potensial dan jika dihilangkan akan menyebabkan Economic Loss yang cukup berarti untuk negara.
Benefit lainnya adalah perkembangan dalam pertanian tembakau yang merupakan pertanian rakyat. Selama indusri rokok berkembang, maka pertanian tembakau akan terus berkembang. Pertanian tembakau sebagai pertanian rakyat sangat membantu dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat petani tembakau. Seandainya tembakau tersebut menjadi tidak terjual karena rokok dilarang produksi, bisa jadi akan terjadi peningkatan kemiskinan secara drastis, khususnya pada petani tembakau.
Kemudian, berdasarkan sebuah penelitian di Kanada, berkembangnya industri rokok membuat public health services mendapatkan income yang lebih besar kaena perawatan perokok yang mengalami gangguan pernapasan dan lain sebagainya. Hal ini juga menguntungkan perusahaan obat dalam membuat obat khusus untuk perokok.
Dengan kata lain, pada dasarnya, Industri Rokok meningkatkan GDP negara ini dengan cukup signifikan.
Costs
Penelitian baru2 ini menemukan sebuah indikasi biaya agregat yang timbul karena berkembangnya industri rokok. Sedikit berhubungan dengan kesehatan, rokok pada dasarnya menyebabkan kerusakan pada fungsi tubuh terutama pernapasan. Kerusakan2 pada fungsi tubuh yang terpengaruh oleh rokok menyebabkan sebuah degradasi pada produktivitas tenaga kerja. Terlebih lagi, rokok mempengaruhi lingkungannya, berarti tidak hanya perokok aktif yang mengalami penurunan produktivitas melainkan juga perokok pasif. Selain itu, kematian yang terjadi menyebabkan berkurangnya ketersediaan tenaga kerja ahli yang pada umumnya sulit digantikan. Hal ini menyebabkan perusahaan maupun rumah tangga mengalami penurunan dalam skala produksi secara agregat.
Kemudian dari setiap individu, rokok merupakan Cost Driver yang sangat besar nilainya. Walaupun rokok sebatangnya terhitung murah, yaitu sekitar Rp500,- hingga Rp1.000,-, akan tetapi rokok yang menyebabkan efek kecanduan mendorong konsumen rokok untuk mengkonsumsi lebih. Jika diasumsikan sehari setiap merokok mengkonsumsi rokok dengan nilai Rp10.000,- jika kita kalikan dengan 30 hari, maka diperoleh angka Rp300.000,- per bulan yang nilainya setara dengan uang sekolah per bulan dari SMA Negeri di Jakarta. Dan lebih menariknya lagi, nilai tersebut sebagian besar dikonsumsi oleh rakyat miskin yang umumnya kesulitan dalam menyekolahkan anaknya.
Sehingga dapat kita simpulkan bahwa Industri Rokok juga menyebabkan penurunan dalam jumlah GDP suatu negara melalui degradasi produktivitas dan berpartisipasi dalam peningkatan kemiskinan.
Discussion
Dengan segala Costs dan Benefits secara ekonomi itu, hal ini masih menjadi sebuah perdebatan yang sangat alot. Di satu sisi rokok adalah keberadaan yang diperlukan dan di sisi lain merugikan. Gw masih belum bisa menilainya dengan angka mengenai Costs dan Benefitsnya tetapi mungkin kalian bisa melihatnya di jurnal2 yang ada di internet (klo gw sempet akan gw sertakan). Jika timbang2 dengan social costsnya (sementara social benefits rokok tidaklah banyak), maka rokok adalah keberadaan yang merugikan. Tapi, secara ekonomis belum tentu.
Nah, bagaimana pendapat kalian mengenai perdebatan rokok ini?
Enjoy Your Burg... Hot Chocolate!
Wirapati
A Beautiful Mind: True or False?
Huff... Baru pulang dari Pulau Seribu. Abis banyak makan Seafood (Yang sebenernya gak bs gw makan cuz gw alergi kulit udang dan trauma ma tulang ikan), makanya gw ma mesen Fillet o' Fish. Mayonaisse-nya banyak ya mas...
Pertama kali gw nonton Film berjudul A Beautiful mind (long time ago ya, tahun 2004an klo g salah pas gw nonton) yang menceritakan tentang John Forbes Nash (Russell Crowe), seorang mathematician pemenang nobel ekonomi yang berjuang melawan schizophrenia, gw uda langsung jatuh cinta. Film ini banyak menginspirasi hidup gw. Berkat film ini, dari jaman dulu gw kepikiran pengen masuk ekonomi selaen krn dorongan bokap dan lebih lanjut lagi gw mengagumi Game Theory yang saat ini gw lagi hobi baca2 jurnal tentang itu. John Nash adalah ekonom favorit gw sampe sekarang.
Dulu, waktu gw nonton nih film, gw nerima aja semua yang diomongin di sana. Kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, gw yang uda jadi mahasiswa Ilmu Ekonomi memperdalam ilmu game theory gw dan menyadari ada hal yang cukup aneh di salah satu adegannya. Ini adalah cuplikannya yg gw peroleh dari Youtube.
Ini adalah adegan di mana Russell Crowe sebagai John Nash mengatakan bahwa Adam Smith salah. Here's a subtitle to help you understand what he talked about!
What if no one goes for the blonde?
We don’t get in each other’s way, and we don’t insult the other girls.
That’s the only way we win.
That’s the only way we all get laid.
Adam Smith said, the best result comes from everyone in the group doing what’s best for himself, right?
That’s what he said, right?
Incomplete. Incomplete!
The best result will come when everyone in the group doing what's best for himself and the group.
Nah, here's the problem. Benarkah teori yang dikeluarkan Nash menyanggah pendapat Smith seperti yang dikemukakan Nash dalam film tersebut?
Dalam jurnalnya, Smith berkata bahwa Hasil yang terbaik akan dicapai jika setiap individu bergerak berdasarkan yang terbaik baginya, konsep invisible hand yang memperbaiki perekonomian secara otomatis. Overall, itulah yang dimaksud dengan Free Competition.
Nash di dalam jurnalnya tentang Cooperative Games mengatakan bahwa jika seseorang memang harus bekerja sama dengan orang lain, jika hal itu membuat semuanya better off, maka jika disusun Game Theory-nya akan diperoleh equilibrium di mana keduanya akan bekerja sama. Ambil contoh. Ada 2 orang, A dan B ingin memotong kayu. Jika mereka bekerja sendiri2 maka mereka hanya dapat memotong kayu rotan dalam sehari dan jika mereka bekerja bersama mereka bisa mendapat banyak kayu jati yang lebih mahal dan mendapat penghasilan lebih, sementara jika salah satu mencoba memotong kayu jati dan satunya lagi kayu rotan maka yang mencoba memotong kayu jati hanya akan memperoleh sedikit kayu jati yang sebenarnya jika dihitung penghasilannya lebih rendah jika dia mencari kayu rotan sendiri. Dalam hal ini, mereka akan cenderung untuk memilih cooperate. Supaya dapet penghasilan yang lebih gedhe.
Nah, ada satu hal yang menarik. Sesuatu yang terbaik untuk grup kita, bukankah merupakan sesuatu yang terbaik bagi diri kita? It's true that it's the best for group, but individually, they think that it's the best for himself, no matter if it's best for its group. The way they cooperate is to make themselves better off. Bukankah itulah insting rasional manusia? Behavior yang dimiliki manusia sebagai makhluk ekonomi akan membawa mereka untuk melakukan apa saja yang terbaik bagi dirinya walaupun harus melakukan kerja sama (meninggalkan kompetisi). Jika kita adalah perusahaan kecil, kita tak akan serta merta menjadi bersaing dengan perusahaan besar yang sudah mapan. Kita pasti akan menjadi follower untuk memupuk kekuatan dan kemudian mulai bersaing. Jadi, competition is not all about opposing each other. Mungkin itulah yang dimaksud oleh Adam Smith.
Tetapi, kita tidak akan hanya memikirkan keuntungan bagi diri kita sendiri, tetapi juga keuntungan bagi grup kita. Sebab, jika kerja sama adalah alasan bagi kita untuk meninggalkan kompetisi, kita juga harus memikirkan apakah keuntungan yang bisa diperoleh produsen lain? Kita harus bisa menemukan sebuah solusi di amna tak ada yang mati. Semua senanglah klo kata anak2 yang main capsa. Jadi, bisa dikatakan bahwa "invisible hand and free competition might be wrong, since the desicion we made is considered as the best for our group, not just ourselves". Dan lebih lagi, Adam Smith sangat menekankan pendapatnya pada kompetisi (Free Competition) bukan kerja sama. Itu adalah sebuah kesimpulan yang gw tarik setelah membaca2 beberapa jurnal.
Lantas, benarkah film "A Beautiful Mind" secara frontal dan eksplisit mengatakan Adam Smith itu salah? Kalo menurut gw, Nash tidaklah menyanggah teori Smith, melainkan menjelaskannya lebih lanjut. Nash bisa dikatakan menyempurnakan ide dasar Smith dengan menambahkan unsur Cooperative dalam mekanisme pasar sehingga tidak pure individualistis.
Akan ada banyak pendapat mengenai hal ini. Apakah benar Nash menyanggah Smith atau tidak? Para pembaca juga mungkin memiliki pendapat masing2. Menurut kalian, Apakah film "A Beautiful Mind" menginterpretasikan pendapat Nash dengan benar dengan memasukkan kata2 "Adam Smith Was Wrong" dalam dialognya? Ungkapkanlah ide kalian!
Enjoy your burger!
Wirapati
The Glorious Moment: First Gold Medal for Indonesia
Mas, pesen yang biasa ya! Pedes trus mustardnya yang banyak! Sip, let's begin!
Di antara segala berita buruk yang mewarnai hari kemerdekaan Indonesia yang ke-63, seperti Pembunuhan Berantai oleh Ryan, Kasus Korupsi, Pembalakan Hutan, dll, ternyata Indonesia tetap mendapatkan hadiah ulang tahun yang luar biasa berharga, import langsung dari Beijing,
Pada malam Sabtu, 16 Agustus 2008, jam 09.00 p.m. (klo gak salah) waktu setempat di negeri bambu, atlet bulu tangkis ganda Indonesia, Hendra Setyawan dan Markis Kido, berhasil meraih medali emas yang pertama untuk Indonesia setelah dengan dramatis menaklukkan pasangan ganda dari Cina dengan nilai 12-21, 21-11, 21-16. Setelah backhand yang dilakukan oleh Setiawan yang melintasi lapangan dan gagal dikembalikan oleh pasangan Cina. Dengan segera, kedua pemain Indonesia tersebut saling berpelukan bersama sang pelatih sampai tidur2an di lantai.
Momen yang mengharukan sekaligus membanggakan itu telah membuahkan sebuah hadiah ulang tahun untuk Indonesia yang tiada duanya. Setelah kekalahan yang menyedihkan di Piala Thomas, ternyata pasangan ganda putra ini mampu membuktikan baktinya untuk negeri dengan kemenangan ini.
Hal ini menunjukkan kebangkitan kembali bulu tangkis Indonesia setelah pasangan ganda putra Rexy Maynaki dan Ricky Subagja dalam olimpiade 2000 di Australia. Sayangnya pemenang emas tunggal putra Athena 2004, Taufik Hidayat, tidak berhasil memperoleh prestasi apa2 tahun ini. Sementara itu Maria Kristin Yulianti berhasil memperoleh medali perunggu.
Sayang sekali pasangan Vita Marissa dan Flandy Limpele gagal memperoleh perunggu setelah ditaklukkan pasangan Cina dengan skor 21-19, 17-21, 21-23. Tapi keduanya berhasil menyuguhkan pertandingan badminton paling menarik sepanjang olimpiade. Dapat dilihat dari perolehan poin yang sangat sengit dan permainan deuce yang membuat napas tertahan.
Sementara itu, pasangan Liliyana Natsir dan Nova Widianto juga gagal memperoleh emas karena kalah dari Korea Selatan dengan skor 11-21 dan 17-21. Walaupun dari skornya terlihat seakan-akan tidak ada perlawanan, tetapi kedua pemain Indonesia tersebut sudah berusaha dengan baik dan membuahkan perak untuk Indonesia.
Satu hal yang dapat kita tarik dari kejadian di olimpiade Beijing ini adalah, bahwa olah raga bulu tangkis kita telah bangkit kembali setelah kepergian pemain2 kaliber masa lampau ditambah dengan Taufik Hidayat yang dikabarkan akan gantung raket setelah olimpiade ini. Tampaknya pepatah lama 'Mati Satu Tumbuh Seribu' berlaku. Walaupun banyak pemain2 legendaris yang sudah tidak bisa membela negeri ini, akan ada ratusan pemuda pemudi Indonesia yang siap melanjutkan perjuangan mereka. So...
Be Proud!
Wirapati
GLORIOUS MOMENT

Pasangan Ganda kita yang sedang
berjoeang dengan semangat '45!!

Dipenuhi suka cita kedua pemain
kita langsung peluk2an di lantai.
Merdeka!
Dan mereka pun...
Ryan: Selebritis??
Klo ini lagi di Burger King, gw pesen Whooper dengan paket extra large! Byar kenyang!!

Seragam Khusus Koruptor
Halo, semua! Mari kita buka blog ini dengan ceria! Burger pesanan kita telah datang. Let's enjoy this!
Dalam beberapa minggu ini, di televisi ramai dengan perbicangan seragam khusus koruptor yang rencananya akan dipakai para terpidana kasus korupsi di dalam persidangan. Hal ini ditujukan untuk menimbulkan efek jera bagi para koruptor melalui rasa malu yang diperolehnya.
Gw sangat setuju dengan terobosan ini. Bayangkan, hingga saat ini, para terpidana atau tersangka kasus korupsi selalu datang ke dalam persidangan dengan pakaian yang rapi serta necis, bahkan cenderung mewah. Lebih parah lagi, seorang terpidana korupsi malah sempat memanggil make up artis sebelum pergi ke sidang di dalam tahanan.
Betapa anehnya fenomena yang dialami Indonesia ini. Maling ayam (contoh yang paling sering digunakan orang2 dalam membandingkan kasus korupsi) bisa digebukin sampe mati atau masuk ke penjara yang buruk. Akan tetapi, koruptor yang jelas kesalahannya melibatkan seluruh negara, mendapatkan privilege-privilege seperti penjara yang mewah (AC, WC, tempat tidur nyaman, sofa, dll) dan datang ke sidang dengan pakaian mewah.
Hal ini jarang terjadi di negara-negara maju di luar sana. Terpidana korupsi ditahan di satu sel yang sama dengan terpidana lainnya. Bisa saja dia masuk ke dalam sel yang sama dengan pembunuh berdarah dingin (Note: mohon koreksi jika salah). Ini jelas memberikan efek jera kepada koruptor. Pembuatan seragam khusus koruptor ini adalah langkah awal yang baik. Tapi, KPK tidak boleh puas dengan semua ini. KPK masih harus merencanakan tindakan selanjutnya dari kebijakan ini.
Enjoy Your Burger!
Wirapati
Lampiran! Nih, ada desain2 yang mungkin akan menjadi seragam buat para maling rakyat itu.




