Kantin FE Baru, tempat di mana calon ekonom membicarakan masa depan...

Showing posts with label Wirapati. Show all posts
Showing posts with label Wirapati. Show all posts

Saat Langit Keadilan Runtuh



Saat langit keadilan runtuh
Atlas pun tak bisa menahannya penuh
Harga diri bangsa pun jatuh
Mewarnai hukum dengan keruh

Pagi2 gini enaknya mesen indomie rebus dobel dan susu hangat cemonk. Hmm. Segar. Topik pagi ini adalah hukum di Indonesia yang sudah terlalu bobrok. Coba kita telaah:

Kita semua tahu pada saat ini sedang terjadi kisruh kasus Prita. Prita yang hanya menuliskan email berupa keluhan dikenakan perkara pidana dan perdata sekaligus. Kasus yang telah mengudara selama satu setengah tahun ini akhirnya menjatuhkan hukuman berupa denda sebesar Rp204 juta kepada Prita. Sebuah jumlah yang tidaklah kecil untuk Prita yang bukanlah orang yang kaya.

Sementara itu, dua orang jaksa terpidana kasus penggelapan barang bukti ekstasi sejumlah 300 butir milik pengadilan Jakarta Utara mendapatkan keringanan hukuman yang sangat besar. Jaksa Esther hanya mendapatkan hukuman satu tahun penjara dan denda sebesar Rp 5 juta, sedangkan Jaksa Dara divonis BEBAS.

Benar-benar menarik! Seorang ibu rumah tangga yang membuat email keluhan atas dasar kenyataan dijatuhkan hukuman denda Rp204 juta, sedangkan Jaksa (yang bersumpah atas nama Tuhan) yang menggelapkan barang bukti hanya dikenakan satu tahun penjara dan denda Rp 5 juta, bahkan salah satu terdakwanya dinyatakan bebas.

Inilah bentuk ketidakadilan hukum di Indonesia. Bagaimana bisa kesalahan jaksa yang begitu beratnya hanya dikenakan hukuman ringan sedangkan Prita dikenakan hukuman yang sedemikian berat. Jujur ini menunjukkan kebobrokan hukum Indonesia. Dari mana Indonesia bisa menyandang titel Negara Hukum jika pengadilan seperti ini saja menghasilkan keputusan yang sangat tidak adil?

Pelaksana hukum Indonesia memang harus disadarkan. Rakyat pun sudah mulai sadar akan kebobrokan hukum di Indonesia ini. Bahkan untuk menanggapi kasus Prita ini, masyarakat sudah mulai menjalankan gerakan Koin Untuk Prita yang memberikan koin sebagai bayaran denda untuk Prita yang jika dihitung koin bernilai Rp 204 juta akan seberat 2,5 ton (WOW!). Masyarakat memang harus mulai menjalankan People Power untuk melakukan Social Control kepada pemerintah. Hanya saja masyarakat harus berkepala dingin dan menyelesaikan segalanya dengan aksi damai agar tidak terjadi kerusuhan.

Indonesia tidak akan pernah bisa menjalankan fungsi negara hukumnya jika hal seperti ini masih terus berlanjut. Jika pemerintah tidak sadar akan hal ini, maka hal ini dapat berpotensi menimbulkan riot berikutnya setelah demonstrasi 1998 lalu yang menurunkan Presiden Soeharto. Hukum yang sedemikian lemah takkan dapat mengatur masyarakat. Pembenahan hukum adalah hal yang harus dilakukan demi menjaga keamanan dan ketertiban di Indonesia.

Regards,
Wirapati

Education Trap



Duh, belum kenyang nih dengan Yamin Polos. Saatnya buat ronde dua dengan makan Spaghetti Bolognaisse. Pesen satu ahh! Dan Es teh manis biar ndak haus. Sambil nunggu pesanan, mari kita berdiskusi. Topik kali ini adalah kemiskinan dan pendidikan.

Kemiskinan jelas sudah menjadi sebuah topik yang tiada akhirnya di Indonesia. Sebagai negara yang sangat kaya dengan sumber daya alam, Indonesia merupakan negara yang tingkat kemiskinannya masih sangat tinggi. Hingga tahun 2008 lalu, tingkat kemiskinan di Indonesia masih sekitar 37%, tidak jauh berkurang dari 32 tahun lalu yaitu tahun 1976 yang sekitar 38%.
Melalui masa 30 tahun dan jumlah kemiskinan negara ini tidaklah banyak berkurang. Sebutan Asian Miracle mungkin hanya sebuah kulit belaka karena ternyata di dalamnya masih banyak masalah sosial seperti kemiskinan yang tidak teratasi dengan baik.

Kunci utama dari pengentasan kemiskinan sebenarnya tidak lain adalah pendidikan. Dengan pendidikan yang cukup, penduduk miskin dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Bahkan jika perekonomian sedang dalam kondisi Full Employment, penduduk miskin dapat menciptakan lapangan kerja sendiri dengan entrepreneurship dengan modal pendidikan dan pengetahuannya itu. Oleh karena itu, akses pendidikan bagi penduduk miskin merupakan sesuatu yang harus ditingkatkan.

Akan tetapi, sebenarnya negara-negara berkembang, khususnya Indonesia, penduduk miskin diletakkan dalam kondisi di mana mereka mengalami kesulitan untuk keluar dari kemiskinan. Sebab, penduduk miskin mengalami kesulitan untuk mengakses pendidikan. Hal ini dapat dikarenakan oleh biaya dan lokasi. Pendidikan di Indonesia, terutama yang berkualitas terpusat di Jakarta saja, di mana sekolah negeri dapat berjumlah ratusan. Sedangkan di pulau selain Jawa, sekolah dalam satu kota mungkin dapat dihitung dengan jari. Selain itu, sekolah di Indonesia tidak memenuhi prinsip barang publik, yaitu non-rivalry dan non-excludability. Pendidikan sudah menjadi barang komersial di Indonesia.

Sehingga, penduduk miskin tidak dapat memperoleh pendidikan yang layak. Tanpa pendidikan yang layak, maka penduduk miskin tidak dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Kemudian, tanpa pekerjaan yang layak, penduduk miskin tak dapat memperoleh penghasilan yang cukup. Tanpa penghasilan yang cukup penduduk miskin tak dapat mengakses pendidikan. Dan siklus tersebut akan berlanjut terus. Itulah yang disebut dengan Education Trap atau Jebakan Pendidikan yang menyebabkan penduduk miskin sulit keluar dari lingkaran kemiskinan..

Memang, di Indonesia saat ini sudah ada program sekolah gratis. Tetapi, bagaimana dengan kualitasnya? Jelas sekolah-sekolah yang gratis ini tidak akan memiliki kualitas setingkat dengan sekolah unggulan nasional (yang seluruhnya berkumpul di Jakarta). Bahkan, kualitasnya umumnya jauh dibandingkan dengan sekolah unggulan nasional. Hal ini menciptakan disparity of education antar sekolah dan daerah.

Pemerintah harus mulai menjalankan program pemerataan pendidikan. Jangan hanya pendapatan yang harus diberikan pemerataan, pendidikan pun harus mengalami pemerataan agar setiap penduduk memperoleh pendidikan yang berkualitas untuk memperbaiki nasibnya. Jika kita menggunakan teori ekonomi (agak lupa namanya apa), di mana penduduk kaya memberikan kompensasi bagi penduduk miskin dengan menggunakan transfer of income untuk mencapai pemerataan pendapatan, bagaimana jika hal tersebut diterapkan pada pendidikan? Sekolah-sekolah yang sudah dikategorikan unggulan harus melakukan subsidi silang terhadap sekolah lainnya yang belum memiliki kualitas yang baik (pada umumnya sekolah unggulan memiliki tarif pendidikan yang relatif lebih mahal). Subsidi silang ini akan digunakan untuk melengkapi fasilitas sekolah-sekolah gratis tersebut sehingga dapat mendukung kegiatan belajar-mengajar yang kondusif dan berkualitas. Dengan demikian, pemerataan pendidikan dapat tercapai. Inilah konsep yang disebut sebagai Distribution of Education.

Dengan demikian, penduduk miskin memiliki kesempatan untuk keluar dari Jebakan Pendidikan yang menahan mereka tetap berada dalam lingkaran setan kemiskinan. Walaupun pendidikan bukanlah satu-satunya determinan kemiskinan, tetapi peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan merupakan kesempatan baru bagi pengentasan kemiskinan.

Begitulah menurut gw kawan2. Bagaimana pendapat kalian?

Regards,
Wirapati

One Day Nationalism



Lama tak berjumpa. Gw mau memesan Yamin Polos (menu favorit klo lagi bokek. heheh). Baiklah, kali ini sekali-sekali gw mau posting dalam bahasa inggris. Yah, itung2 latihan english gitu lahh. Okay, let's get it on!

Back in October 2, 2009, we might find a very significant difference from our usual day. We could see most of people wore Batik that day. While on the other day, we rarely see people wearing Batik for they daily activity like going to work or campus, only on this day we hardly find people wearing casual outfit.

That day was the day where Batik was inaugurated as Indonesia’s national culture.

It has been years since the first conflict with Malaysia about the patent of Batik, and now Batik has been accepted as Indonesia’s national culture by international world. People of Indonesia together wore Batik for celebrating the most historical day in the history of Indonesian culture.

Nationalism by Wearing Batik in One Day

Several weeks before the D-Day of the inauguration, people started to spread the request of using Batik for the ceremonial day. We can see the request to wear Batik from Facebook, Twitter, Mailing List, Text Message or any other possible media. Even in my campus at University of Indonesia, there is a huge banner demanding the student to wear Batik for the D-Day.

One of the issues that has been surfaced to entice people to wear Batik for that day is the issues of nationalism. People started to spread the issue that to show our nationalism towards our country, we must wear Batik to celebrate the ceremonial day.

It was a good and positive idea, but there is one worrying problem arisen at the same time. People started to think that someone who did not wear Batik on that day as someone who are non-chalant for Indonesian culture, that they are considered as not celebrating the event. Those who did not wear Batik that day are considered as not having the sense of nationalism.

Does nationalism really that simple?

Nationalism cannot be judged by that very small matters. Does the people who wear Batik for that day can be acknowledged as the people who have a good sense of nationalism?

Obviously, they cannot.

There are a lot of ways to show our nationalism and wearing Batik for one day is just a small portion from a greater one. Those who did not wear Batik for that day must not be judged one-sidedly like that. They might have their own way to show their love for the country. They might have a greater nationalism than those who wore Batik that day. Moreover, those who only wear Batik for the sake of that ceremonial and forget about it later are the people who lack of nationalism. Because, their nationalism is limited as just a ceremony.

Nationalism is not merely wearing Batik for just one day.

Before The Conflict with Malaysia

This Batik issue has only been an intriguing issue in Indonesia since the conflict with Malaysia to decide the nationality of Batik. Before the conflict, people did not care whether other people wore Batik or not, even when they attending a wedding. People did not say that those who did not wear Batik as the one who lacks of nationalism.

This nationalism issue has only arisen right after the conflict where Batik was one-sidedly announced by Malaysia as its national culture. Where are we, who spread the issue of nationalism in wearing Batik, before Malaysia took it from us.

Maybe, it was not purely Malaysia’s fault that Batik were once announced as its culture. It was because we did not cherish it well that it was almost taken from us. We were rarely use Batik as our daily outfit, considering it as an old-fashioned outfit. Only after the conflict we begin to care with this national outfit.

And, now we one-sidedly judge people who did not wear Batik as lack of nationalism. We value other people without valuing our past fault that this pride of Indonesia almost fall into the hand of other nation. We might be the one who lacks of nationalism, yet judging others as one.

Showing Our Nationalism

The past is the past. Our non-chalant attitude almost give Indonesia a big loss in culture. Now that we can defend it, we must cherish it together. But, it cannot be cherished if we only use it for wedding attire like we used to be. We have to start to use it more frequently.

People in India and Pakistan wear their traditional outfit, saree and shalwar kameez, as their daily outfit or even when they are going to work. While in Indonesia, we only wear it once in a week at Friday for work.

We have to start to accept it as our daily outfit. But, it is not that easy since Batik has been considered as an old-fashioned outfit which only appropriate for wedding attire.

There is one possible answer for this problem: creative industry. Creative Industry. By promoting creative industry, it is possible to produce Batik outfits that are appropriate for casual attire and formal attire. If the people cannot adapt easily, then it is the product that needs to adapt with the people.

The present creative industry has started to produce Batik which can be used for every event. Now is our turn to use the product of creative industry, especially Batik, as our form of appreciation to Indonesian culture. Once we get used to it, Batik will become our daily outfit, and therefore, Batik as our traditional culture can be cherished.

That’s how we show our nationalism.

Krisis Finansial AS dan Intervensi Pemerintah



Wahh, lama sekali tak berkunjung untuk menikmati sebuah burger di sini. maklum, akhir2 ini puasa jadi jarang berkunjung. Siang puasa, malem teraweh. Hehehe... Anyway, gw mo Mashed Potatoes ditambah dengan Spaghetti Bolognaise hari ini. Uda lama gak makan beginian.

Hari ini, dibandingkan memaparkan keseluruhan pemikiran di kepala gw di dalam blog ini, gw hanya ingin memberikan sebuah kasus untuk kita diskusikan. Gw harap, teman2 yang membacanya memberikan tanggapan dan komentar atas apa yang akan gw katakan. Make it a discussion, guyz.

Pastinya semua sudah mendengar mengenai Krisis Finansial di AS yang sedang hangat2nya di berita karena Sub-prime Mortgage kemudian disusul dengan ambruknya Lehman Brothers Financial Co. yang mengakibatkan rontoknya bursa Wall Street. Kebankrutan yang dialami oleh Lehman Brothers menyebabkan guncangan yang sangat besar di sektor finansial dunia. Risiko sistemik yang disebabkan oleh shock tersebut merambah hingga ke negara2 maju seperti Jepang dan Inggris, serta Uni Eropa. Obligasi yang dimiliki oleh Lehman Brothers mencakup banyak negara di dunia sehingga kebankrutannya menyebabkan ancaman risiko krisis likuiditas di negara2 terseut, termasuk Indonesia. Jelas sekali bahwa Bank nomor 4 di AS ini memegang kunci sistemik sektor finansial dunia.

Apakah hal menarik yang dapat kita diskusikan di sini?

Melihat betapa besarnya risiko yang dipegang oleh Lehman Brothers, mengapa pemerintah AS tidak melakukan intervensi terhadap Lehman Brothers untuk menyelamatkannya dari kebankrutan yang bersifat sistemik? Hal ini diputuskan oleh pemerintah AS pada tanggal 14 September 2008 yang menyebabkan Lehman Brothers menyatakan kebankrutannya pada tanggal 15 September 2008. Sementara itu, pemerintah lebih mementingkan untuk menyelamatkan AIG yang terancam ambruk akibat bankrutnya Lehman Brothers. Mengapa?

Kedua hal tersebut sangat menarik untuk dibahas. Nah, gw menantikan jawaban dari kalian semua.

While waiting, I'll enjoy my burger!
Wirapati

Image Bandara Kita








Changi International Airport
Singapore








Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Indonesia




Coba kita perhatikan kedua...
Tampak sebuah wibawa yang berbeda antara bandara Indonesia dan Singapur. Jelas bandaa Singapur secara bentuk dan fasilitasnya lebih mencerminkan bandara internasional yang berwibawa dibandingkan Indonesia. Oke, mungkin karena Singapur lebih tajir dari kita. But, that's not the only problem we had here.

Sebelum itu, gw mau pesen Tuna Croissant Sandwich dan Thai Tea. Uda lama gak menikmati keduanya. Let's start!

Apakah makna dari bandara internasional bagi sebuah negara? Apakah hanya sebuah tempat pesawat terbang yang mendarat dan kemudian terbang lagi? Atau hanya tempat parkir pesawat yang sedang menunggu jadwal flight? Atau mungkin tempat orang berlalu-lalng dai satu empat ke tempat lain dalam waktu sekejap saja?

Lebih dari itu! Makna dari sebuah bandara internasional lebih dari sekedar empat transit, tempat parkir pesawat dan halte untuk berpergian internasional. Bandara internasional adalah sebuah gerbang, gerbang pertama dari sebuah negara saat ada pengunjung dari luar negeri tiba ke sebuah negara. Oleh karena itulah, bandara internasional adalah sebuah image pertama dari sebuah negara, simbol kewibawaan lapis pertama.

Indonesia memiliki bandara internasional dengan fasilitas yang jelas kalah dengan Singapur. Karena memang kita negara berkembang dan Singapur negara maju. Tapi, apakah fasilitas cukup dalam memberikan image dan wibawa bagi sebuah bandara. Tidak! Bagaimana bandara tersebut diatur dan tertib adalah image yang lebih penting lagi.

Kita sering melihat di Soekarno-Hatta (SH) mengenai betapa tidak teraturnya bandara internasional itu. Banyak pedagang kaki lima. Banyak orang yang duduk sembarangan di bandara. Banyak orang yang merokok bahkan di tempat dilarang merokok. Banyak calo. Kotoran dan sampah banyak terlihat di bagian luar SH. Dan terlebih buruknya lagi, hal2 tersebut di atas juga dilakukan oleh pegawai SH.

Gw uda pernah ke Changi dan melihat bagaimana berwibawanya bandara ini. Bukan hanya karena fasilitasnya. Tapi betapa rapi dan tertibnya bandara ini. Semua orang berjalan dengan tertib. Tidak ada yang merokok kecuali di Smoking Room. Tidak ada yang ngedeprok di sembarang tempat. Tidak ada kaki lima. Bus penjemput pun parkir dengan teratur. Everything is under control!

Kita bisa bandingkan bagaimana image awal dari sebuah negara saat kita tiba di bandaranya. Bandara Changi memberikan image sebuah negara yang tertib dengan peraturan yang dipatuhi oleh penduduknya. Sementara, SH menunjukkan betapa negara kita tidak tertib dan penduduknya sering tidak menaati peraturan bahkan pembuat peraturan itu sekalipun.

Bagaimana Indonesia mau memiliki wibawa yang cukup di mata warga negara asing yang datang ke Indonesia jika gerbang utamanya saja sudah mengesankan tidak baik. Kita berangan2 memajukan turisme dan pariwisata internasional, tapi tidak membenahi bandara kita ini. Bahkan, delegasi kenegaraan asing pun bisa malas melihat bandara kita ini.

Gw rasa, dalam hubungan internasional, Indonesia harus memulai dengan membenahi bandaranya terlebih dahulu. Dengan demikian, kita bisa memberikan First Impression yang baik.

Enjoy Your Burger!
Wirapati

Economic Costs and Benefits of Cigarettes



Hoahm.. Ngantuk dan lelah sehabis beraktivitas. Secangkir coklat panas akan merelaksasi tubuh kita dalam kondisi seperti ini. Mas, pesen Hazelnut Hot Chocolate yang Grande. (Lho, koq nyangsang ke Starbucks?)

Kisah mengenai rokok ini pastinya lagi HOT! HOT!nya di dalam media massa. Terutama mengenai MUI yang menyatakan rokok sebagai haram. Banyak kontroversi di mana2 mengenai hal ini. Bahkan di TVOne terjadi perdebatan yang super panas mengenai hal ini, apakah rokok haram atau tidak?

Actually, gw tidak mau membahas hal yang ada di atas. Sebagai calon ekonom, gw ingin memandang rokok sebagai Economic Goods dan di sini gw ingin berdiskusi mengenai Costs and Benefits dari rokok ini terhadap perekonomian mikro dan makro. Dalam diskusi ini, gw ingin mengesampingkan semua costs dan benefits dari rokok ini diluar economic costs dan benefits. Jadi, kita kesampingkan efek kesehatan di sini jika tidak diaplikasikan secara ekonomi.

Benefits
Pertama-tama kita lyat benefitnya. Rokok jelas memberikan pendapatan bagi negara. Pada dasarnya, rokok merupaka komoditas objek pajak yang sangat ditinggi nilai pajaknya. Konsumsi rokok akan menambah Government Revenues yang kemudian dapat digunakan untuk pembangunan dan lain sebagainya. Degan kata lain, rokok adalah sumber penghasilan negara yang sangat potensial dan jika dihilangkan akan menyebabkan Economic Loss yang cukup berarti untuk negara.

Benefit lainnya adalah perkembangan dalam pertanian tembakau yang merupakan pertanian rakyat. Selama indusri rokok berkembang, maka pertanian tembakau akan terus berkembang. Pertanian tembakau sebagai pertanian rakyat sangat membantu dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat petani tembakau. Seandainya tembakau tersebut menjadi tidak terjual karena rokok dilarang produksi, bisa jadi akan terjadi peningkatan kemiskinan secara drastis, khususnya pada petani tembakau.

Kemudian, berdasarkan sebuah penelitian di Kanada, berkembangnya industri rokok membuat public health services mendapatkan income yang lebih besar kaena perawatan perokok yang mengalami gangguan pernapasan dan lain sebagainya. Hal ini juga menguntungkan perusahaan obat dalam membuat obat khusus untuk perokok.

Dengan kata lain, pada dasarnya, Industri Rokok meningkatkan GDP negara ini dengan cukup signifikan.

Costs
Penelitian baru2 ini menemukan sebuah indikasi biaya agregat yang timbul karena berkembangnya industri rokok. Sedikit berhubungan dengan kesehatan, rokok pada dasarnya menyebabkan kerusakan pada fungsi tubuh terutama pernapasan. Kerusakan2 pada fungsi tubuh yang terpengaruh oleh rokok menyebabkan sebuah degradasi pada produktivitas tenaga kerja. Terlebih lagi, rokok mempengaruhi lingkungannya, berarti tidak hanya perokok aktif yang mengalami penurunan produktivitas melainkan juga perokok pasif. Selain itu, kematian yang terjadi menyebabkan berkurangnya ketersediaan tenaga kerja ahli yang pada umumnya sulit digantikan. Hal ini menyebabkan perusahaan maupun rumah tangga mengalami penurunan dalam skala produksi secara agregat.

Kemudian dari setiap individu, rokok merupakan Cost Driver yang sangat besar nilainya. Walaupun rokok sebatangnya terhitung murah, yaitu sekitar Rp500,- hingga Rp1.000,-, akan tetapi rokok yang menyebabkan efek kecanduan mendorong konsumen rokok untuk mengkonsumsi lebih. Jika diasumsikan sehari setiap merokok mengkonsumsi rokok dengan nilai Rp10.000,- jika kita kalikan dengan 30 hari, maka diperoleh angka Rp300.000,- per bulan yang nilainya setara dengan uang sekolah per bulan dari SMA Negeri di Jakarta. Dan lebih menariknya lagi, nilai tersebut sebagian besar dikonsumsi oleh rakyat miskin yang umumnya kesulitan dalam menyekolahkan anaknya.

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa Industri Rokok juga menyebabkan penurunan dalam jumlah GDP suatu negara melalui degradasi produktivitas dan berpartisipasi dalam peningkatan kemiskinan.

Discussion
Dengan segala Costs dan Benefits secara ekonomi itu, hal ini masih menjadi sebuah perdebatan yang sangat alot. Di satu sisi rokok adalah keberadaan yang diperlukan dan di sisi lain merugikan. Gw masih belum bisa menilainya dengan angka mengenai Costs dan Benefitsnya tetapi mungkin kalian bisa melihatnya di jurnal2 yang ada di internet (klo gw sempet akan gw sertakan). Jika timbang2 dengan social costsnya (sementara social benefits rokok tidaklah banyak), maka rokok adalah keberadaan yang merugikan. Tapi, secara ekonomis belum tentu.

Nah, bagaimana pendapat kalian mengenai perdebatan rokok ini?

Enjoy Your Burg... Hot Chocolate!
Wirapati

A Beautiful Mind: True or False?



Huff... Baru pulang dari Pulau Seribu. Abis banyak makan Seafood (Yang sebenernya gak bs gw makan cuz gw alergi kulit udang dan trauma ma tulang ikan), makanya gw ma mesen Fillet o' Fish. Mayonaisse-nya banyak ya mas...

Pertama kali gw nonton Film berjudul A Beautiful mind (long time ago ya, tahun 2004an klo g salah pas gw nonton) yang menceritakan tentang John Forbes Nash (Russell Crowe), seorang mathematician pemenang nobel ekonomi yang berjuang melawan schizophrenia, gw uda langsung jatuh cinta. Film ini banyak menginspirasi hidup gw. Berkat film ini, dari jaman dulu gw kepikiran pengen masuk ekonomi selaen krn dorongan bokap dan lebih lanjut lagi gw mengagumi Game Theory yang saat ini gw lagi hobi baca2 jurnal tentang itu. John Nash adalah ekonom favorit gw sampe sekarang.

Dulu, waktu gw nonton nih film, gw nerima aja semua yang diomongin di sana. Kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, gw yang uda jadi mahasiswa Ilmu Ekonomi memperdalam ilmu game theory gw dan menyadari ada hal yang cukup aneh di salah satu adegannya. Ini adalah cuplikannya yg gw peroleh dari Youtube.



Ini adalah adegan di mana Russell Crowe sebagai John Nash mengatakan bahwa Adam Smith salah. Here's a subtitle to help you understand what he talked about!

What if no one goes for the blonde?
We don’t get in each other’s way, and we don’t insult the other girls.
That’s the only way we win.
That’s the only way we all get laid.
Adam Smith said, the best result comes from everyone in the group doing what’s best for himself, right?
That’s what he said, right?
Incomplete. Incomplete!
The best result will come when everyone in the group doing what's best for himself and the group.


Nah, here's the problem. Benarkah teori yang dikeluarkan Nash menyanggah pendapat Smith seperti yang dikemukakan Nash dalam film tersebut?

Dalam jurnalnya, Smith berkata bahwa Hasil yang terbaik akan dicapai jika setiap individu bergerak berdasarkan yang terbaik baginya, konsep invisible hand yang memperbaiki perekonomian secara otomatis. Overall, itulah yang dimaksud dengan Free Competition.

Nash di dalam jurnalnya tentang Cooperative Games mengatakan bahwa jika seseorang memang harus bekerja sama dengan orang lain, jika hal itu membuat semuanya better off, maka jika disusun Game Theory-nya akan diperoleh equilibrium di mana keduanya akan bekerja sama. Ambil contoh. Ada 2 orang, A dan B ingin memotong kayu. Jika mereka bekerja sendiri2 maka mereka hanya dapat memotong kayu rotan dalam sehari dan jika mereka bekerja bersama mereka bisa mendapat banyak kayu jati yang lebih mahal dan mendapat penghasilan lebih, sementara jika salah satu mencoba memotong kayu jati dan satunya lagi kayu rotan maka yang mencoba memotong kayu jati hanya akan memperoleh sedikit kayu jati yang sebenarnya jika dihitung penghasilannya lebih rendah jika dia mencari kayu rotan sendiri. Dalam hal ini, mereka akan cenderung untuk memilih cooperate. Supaya dapet penghasilan yang lebih gedhe.

Nah, ada satu hal yang menarik. Sesuatu yang terbaik untuk grup kita, bukankah merupakan sesuatu yang terbaik bagi diri kita? It's true that it's the best for group, but individually, they think that it's the best for himself, no matter if it's best for its group. The way they cooperate is to make themselves better off. Bukankah itulah insting rasional manusia? Behavior yang dimiliki manusia sebagai makhluk ekonomi akan membawa mereka untuk melakukan apa saja yang terbaik bagi dirinya walaupun harus melakukan kerja sama (meninggalkan kompetisi). Jika kita adalah perusahaan kecil, kita tak akan serta merta menjadi bersaing dengan perusahaan besar yang sudah mapan. Kita pasti akan menjadi follower untuk memupuk kekuatan dan kemudian mulai bersaing. Jadi, competition is not all about opposing each other. Mungkin itulah yang dimaksud oleh Adam Smith.

Tetapi, kita tidak akan hanya memikirkan keuntungan bagi diri kita sendiri, tetapi juga keuntungan bagi grup kita. Sebab, jika kerja sama adalah alasan bagi kita untuk meninggalkan kompetisi, kita juga harus memikirkan apakah keuntungan yang bisa diperoleh produsen lain? Kita harus bisa menemukan sebuah solusi di amna tak ada yang mati. Semua senanglah klo kata anak2 yang main capsa. Jadi, bisa dikatakan bahwa "invisible hand and free competition might be wrong, since the desicion we made is considered as the best for our group, not just ourselves". Dan lebih lagi, Adam Smith sangat menekankan pendapatnya pada kompetisi (Free Competition) bukan kerja sama. Itu adalah sebuah kesimpulan yang gw tarik setelah membaca2 beberapa jurnal.

Lantas, benarkah film "A Beautiful Mind" secara frontal dan eksplisit mengatakan Adam Smith itu salah? Kalo menurut gw, Nash tidaklah menyanggah teori Smith, melainkan menjelaskannya lebih lanjut. Nash bisa dikatakan menyempurnakan ide dasar Smith dengan menambahkan unsur Cooperative dalam mekanisme pasar sehingga tidak pure individualistis.

Akan ada banyak pendapat mengenai hal ini. Apakah benar Nash menyanggah Smith atau tidak? Para pembaca juga mungkin memiliki pendapat masing2. Menurut kalian, Apakah film "A Beautiful Mind" menginterpretasikan pendapat Nash dengan benar dengan memasukkan kata2 "Adam Smith Was Wrong" dalam dialognya? Ungkapkanlah ide kalian!

Enjoy your burger!
Wirapati

The Glorious Moment: First Gold Medal for Indonesia



Mas, pesen yang biasa ya! Pedes trus mustardnya yang banyak! Sip, let's begin!

Di antara segala berita buruk yang mewarnai hari kemerdekaan Indonesia yang ke-63, seperti Pembunuhan Berantai oleh Ryan, Kasus Korupsi, Pembalakan Hutan, dll, ternyata Indonesia tetap mendapatkan hadiah ulang tahun yang luar biasa berharga, import langsung dari Beijing,

Pada malam Sabtu, 16 Agustus 2008, jam 09.00 p.m. (klo gak salah) waktu setempat di negeri bambu, atlet bulu tangkis ganda Indonesia, Hendra Setyawan dan Markis Kido, berhasil meraih medali emas yang pertama untuk Indonesia setelah dengan dramatis menaklukkan pasangan ganda dari Cina dengan nilai 12-21, 21-11, 21-16. Setelah backhand yang dilakukan oleh Setiawan yang melintasi lapangan dan gagal dikembalikan oleh pasangan Cina. Dengan segera, kedua pemain Indonesia tersebut saling berpelukan bersama sang pelatih sampai tidur2an di lantai.

Momen yang mengharukan sekaligus membanggakan itu telah membuahkan sebuah hadiah ulang tahun untuk Indonesia yang tiada duanya. Setelah kekalahan yang menyedihkan di Piala Thomas, ternyata pasangan ganda putra ini mampu membuktikan baktinya untuk negeri dengan kemenangan ini.

Hal ini menunjukkan kebangkitan kembali bulu tangkis Indonesia setelah pasangan ganda putra Rexy Maynaki dan Ricky Subagja dalam olimpiade 2000 di Australia. Sayangnya pemenang emas tunggal putra Athena 2004, Taufik Hidayat, tidak berhasil memperoleh prestasi apa2 tahun ini. Sementara itu Maria Kristin Yulianti berhasil memperoleh medali perunggu.

Sayang sekali pasangan Vita Marissa dan Flandy Limpele gagal memperoleh perunggu setelah ditaklukkan pasangan Cina dengan skor 21-19, 17-21, 21-23. Tapi keduanya berhasil menyuguhkan pertandingan badminton paling menarik sepanjang olimpiade. Dapat dilihat dari perolehan poin yang sangat sengit dan permainan deuce yang membuat napas tertahan.

Sementara itu, pasangan Liliyana Natsir dan Nova Widianto juga gagal memperoleh emas karena kalah dari Korea Selatan dengan skor 11-21 dan 17-21. Walaupun dari skornya terlihat seakan-akan tidak ada perlawanan, tetapi kedua pemain Indonesia tersebut sudah berusaha dengan baik dan membuahkan perak untuk Indonesia.

Satu hal yang dapat kita tarik dari kejadian di olimpiade Beijing ini adalah, bahwa olah raga bulu tangkis kita telah bangkit kembali setelah kepergian pemain2 kaliber masa lampau ditambah dengan Taufik Hidayat yang dikabarkan akan gantung raket setelah olimpiade ini. Tampaknya pepatah lama 'Mati Satu Tumbuh Seribu' berlaku. Walaupun banyak pemain2 legendaris yang sudah tidak bisa membela negeri ini, akan ada ratusan pemuda pemudi Indonesia yang siap melanjutkan perjuangan mereka. So...

Be Proud!
Wirapati

GLORIOUS MOMENT






Pasangan Ganda kita yang sedang
berjoeang dengan semangat '45!!








Dipenuhi suka cita kedua pemain
kita langsung peluk2an di lantai.
Merdeka!



Dan mereka pun...

Ryan: Selebritis??



Klo ini lagi di Burger King, gw pesen Whooper dengan paket extra large! Byar kenyang!!



Pasti semua tahu dounk, siapa yang ada di foto di atas? Klo ampe gak tahu yaaa parah juga ya. Dya adalah orang yang nowadays ramai dibicarakan di layar kaca kita, hampir di semua program berita setiap harinya. Maklumlah, kasus yang disebabkan oleh Pria asal Jombang bernama Ryan ini cukup fenomenal di mana sebagai Serial Killer, Ryan tampaknya cukup menikmati apa yang dilakukannya (Membunuh, mutilasi, dll).

Sebenarnya, gw agak kurang suka dengan eksploitasi berita terhadap Ryan yang dilakukan media massa saat ini. Menurut gw, yang dilakukan media massa dalam mengeksplor kasusu Ryan sangat berlebihan. Membahas kronologis pembunuhan Ryan mungkin ada baiknya, hanya saja kalau sampai diulang2 dan tampaknya tidak ada perubahan yang berarti, menurut gw terlalu berlebihan.

Bayangkan, yang dibahas di televisi adalah bagaimana Ryan muntah waktu di tahanan, kemudian tidak ada yang mau satu sel dengan Ryan, dll yang gw rasa cukup tidak penting. Hal yang paling gw gak setuju adalah saat gw menonton infotainment berharap dapet gosip2 teranyar, dan apa yang mereka bahas?

"Para pemirsa pastinya sudah mengenal nama Ryan. Pelaku pembunuhan berseri dengan latar belakang cinta sesama jenis ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Lantas apa yang membuatnya menjadi seperti selebriti ini?"

Dalam sekejap gw berteriak, "Ya, lo sendiri yang bikin dya kayak selebriti!"

Gw gak ngerti. Bahkan infotainment menyiarkan berita tentang dya dan para korbannya. Gw masih setuju kalo yang dieksplor adalah Indra L. Brugman yang digosipkan pernah pacaran dengan Ryan. Tapi, klo yang dieksplor Ryan, terus keluarganya, terus korbannya. Man! Salah tempat donk! Kenapa lo membahas sesuatu yang harusnya masuk berita investigasi di gosip!

Gw sejujurnya gak paham dengan fenomena aneh yang terjadi saat ini. Bagaimana bisa media massa sangat senang memberitakan kasus Ryan ini sampai di semua media berita (termasuk gosip), jangan2 di Space Toon juga dibahas lagi tentang Ryan. Jika mereka bertanya apa yang menyebabkan Ryan sampai jadi selebriti, jawabannya adalah mereka sendiri yang memberitakannya. Tapi, satu hal, menurut gw ini tidak mendidik.

Enjoy Your Burger!
Wirapati

Seragam Khusus Koruptor



Halo, semua! Mari kita buka blog ini dengan ceria! Burger pesanan kita telah datang. Let's enjoy this!

Dalam beberapa minggu ini, di televisi ramai dengan perbicangan seragam khusus koruptor yang rencananya akan dipakai para terpidana kasus korupsi di dalam persidangan. Hal ini ditujukan untuk menimbulkan efek jera bagi para koruptor melalui rasa malu yang diperolehnya.

Gw sangat setuju dengan terobosan ini. Bayangkan, hingga saat ini, para terpidana atau tersangka kasus korupsi selalu datang ke dalam persidangan dengan pakaian yang rapi serta necis, bahkan cenderung mewah. Lebih parah lagi, seorang terpidana korupsi malah sempat memanggil make up artis sebelum pergi ke sidang di dalam tahanan.

Betapa anehnya fenomena yang dialami Indonesia ini. Maling ayam (contoh yang paling sering digunakan orang2 dalam membandingkan kasus korupsi) bisa digebukin sampe mati atau masuk ke penjara yang buruk. Akan tetapi, koruptor yang jelas kesalahannya melibatkan seluruh negara, mendapatkan privilege-privilege seperti penjara yang mewah (AC, WC, tempat tidur nyaman, sofa, dll) dan datang ke sidang dengan pakaian mewah.

Hal ini jarang terjadi di negara-negara maju di luar sana. Terpidana korupsi ditahan di satu sel yang sama dengan terpidana lainnya. Bisa saja dia masuk ke dalam sel yang sama dengan pembunuh berdarah dingin (Note: mohon koreksi jika salah). Ini jelas memberikan efek jera kepada koruptor. Pembuatan seragam khusus koruptor ini adalah langkah awal yang baik. Tapi, KPK tidak boleh puas dengan semua ini. KPK masih harus merencanakan tindakan selanjutnya dari kebijakan ini.

Enjoy Your Burger!
Wirapati

Lampiran! Nih, ada desain2 yang mungkin akan menjadi seragam buat para maling rakyat itu.







 
kaFE Baru © 2008 | Créditos: Templates Novo Blogger